Ketika aku terbangun dari mimpi itu, aku sadar saat itu pula ku rasakan ada sentuhan yang berbeda di kala pagi..
Dinginnya dia..
Menembus tembok itu, sampai ke relung jiwaku..
Sadar aku masih terjaga..
Aku bingung..
Aku bingung dengan kata yang terdengar berbisik di samping ku..
Ku lontarkan senyuman paling indah milik ibu ku..
Aku masih ingin bersamamu..
Aku masih ingin membuatmu tersenyum..
Aku masih ingin membuatmu merasakan nyaman, damai di dekat ku..
Aku masih ingin menjagamu..
Tak perduli orang lain..
Tak perduli siapa pun itu..
Tak perduli keramaian mengusikku..
Dimana akan ku dapatkan lagi belaian lembut itu ?..
DImana akan ku dapatkan lagi untaian kata - kata indah itu ?..
Tuhan..
Entah berapa lama ini akan hilang, akan lenyap..
Entah sampai kapan perasaan itu kembali..
Maafkan aku Tuhan..
Maafkan aku Tuhan..
Hitam.
Kelam.
Hilang.
Tak bermakna..
Tuhan..
Tolong hilangkan perasaan ini..
Hingga matahari menjemputku kembali..
Langit seakan tak bersahabat dengan aku yang kini hanya bisa melihatnya..
Hanya bisa tersenyum, terdiam tak bisa berkata - kata..
Tapi, kenapa wajah itu begitu polos, lugu dan sendu..
Seakan tidak ada dosa di raut wajahnya yang bulat..
Oh, Tuhan.
Aku ingin menyampaikan kata yang penuh amarah kepadanya !
Aku ingin melakukan sesuatu yang tidak bisa dia lupakan !
Aku ingin memaki diriku sendiri, yang lemah !
Aku ingin mencampakannya, sebelum itu dia lakukan pada ku !
Akankahitu kembali ?..
Senin, 08 Agustus 2011
Semu Tertutup Awan
Hey maret.
9 Bulan aku melaluinya..
9 Bulan aku mengenalnya..
9 Bulan aku disampingnya..
9 Bulan aku menghargainya..
9 Bulan aku membahagiakannya..
9 Bulan aku tersenyum..
9 Bulan aku menangis..
9 Bulan aku mengharapkannya..
9 Bulan aku memahaminya..
9 Bulan aku bersamanya..
9 Bulan aku menemaninya..
Dan kini ..
Entah apakah aku harus percaya atau tidak dengan alasan yang akhirnya, aku pun terus memaksa memutar otak untuk mempercayainya..
Dalam hitungan detik pun Tuhan dapat dengan cepat membolak balikan hati umatnya..
Ini takdir, pikir ku dalam hati..
Tapi, apakah secepat ini semuanya berubah..
Di saat aku telah yakin ia jodohku, saat itu juga engkau mengambilnya..
Di saat aku dapat menggapai satu bintang yang paling bersinar itu, saat itu juga bintang itu redup dengan sejuta rahasia..
Perlahan dia menjauh..
Sangat jauh..
Entah apa yang dia rasakan ketika dia mulai berbeda..
Tuhan..
Ketika itu pula aku mencoba tetap setia
menemaninya..
menunggunya..
Tuhan..
Ketika itu pula air mata ini terus mengalir tanpa sadar..
Ketika itu pula seluruh anggota tubuh ini bergetar..
Ketika itu pula hati ini sakit..
Tidak banyak yang ku ketahui tentang dia..
Tidak banyak yang ku ketahui apa yang dilakukannya..
Tidak banyak yang ku ketahui apa yang dialaminya..
Tidak banyak yang ku ketahui tentang semua perasaannya..
Tuhan..
Jika aku boleh memilih, aku tidak akan menginginkan peran yang selalu disakiti seperti ini..
Jika aku boleh memilih, aku tidak ingin mengeluarkan air mata yang penuh dengan kesia - siaan ini..
Apakah semua yang telah dia alami, haruskah aku sebagai penggantinya ?..
Apakah peran yang dia mainkan, haruskah aku yang merasakannya ?..
Mengapa begitu cepat kau ambil dia ?..
Mengapa cahaya kehadirannya kau redupkan lagi ?..
Tuhan..
Aku harap dalam doa..
Aku tidak dipertemukan dengannya lagi..
Aku masih belum siap untuk kehilangannya kedua kali..
Langganan:
Komentar (Atom)

