Rabu, 01 Agustus 2012

Dulu Aku Punya Cinta


Dulu aku punya cinta. Aku terlahir sempurna, tanpa batas pergaulan. Seperti orok bayi yang keluar dari rahim seorang ibu, aku melihat dunia yang indah penuh pesona dan kedamaian. Tuhan menciptakan semua orang dengan adil dan sempurna, termasuk aku yang punya sejuta keinginan. Terlahir dengan kelebihan yang orang lain tak punya. Atas dasar kekuatan cintalah aku terlahir, menatap sang surya yang terkadang malu menampakkan diri. Keinginan ku banyak, bak pelangi yang terbit setelah hujan. Keberanian yang menunjang karir ku agar tetap bertahan dalam setiap keadaan. Kecintaan ku pada dunia kerja mengalahkan semuanya, termasuk pernikahan. Otak ku cukup menampung segala rupa memori tentang kehidupan. Raga yang tumpul menjadi lancip, menterjemahkan warna – warni garis kehidupan. Aku bukan dari anak orang kaya, bukan pula terlahir sebagai kekurangan. Cuma satu penyakitku, aku seorang pelupa. Tidak semua yang kuingat di masa kecil, hanya raut wajah bersih bercahaya itulah yang sampai detik ini menghiasi hari – hari ku. Sebuah bangunan yang sederhana itulah aku dilahirkan, rumah kakek nenek ku yang rajin dalam segala hal. Satu impian ku, berjalan tegak menyapa banyak orang yang nampak asing, berjabat tangan dengan kartu identitas bak para menteri di bangku DPR. Hidup ini sejarah, sejarah dimana kita berpijak. Mencium harum tanah air suatu bangsa, mengisahkan antara aku dan dia, dia dan mereka. Kisah ku sangat banyak, dari aku mengenal dunia, mengeja kata per kata, hingga merangkainya menjadi sebuah kalimat. Mengenal banyak orang itu sangat menyenangkan, tapi kadang ada kala dukanya muncul belakangan. Sejak maskara menjadi teman setia ku, saat itulah aku harus menata masa depan. Alur itu sempit, menapaki satu demi satu anak tangga dengan bermodalkan impian. Aku berpotensi menciptakan suasana baru dengan dukungan orang – orang super.

Hanya satu yang mereka salah dalam menilai aku yang berpenampilan serba aneh. Mungkin kata – kata diskriminasi cocok dalam kalimat selanjutnya. Meskipun orang lain menganggap ku aneh, aku tetap tidak peduli. Yang menilai bukan sepenuhnya manusia, aku beragama menjalankan sesuai syariah agama ku. Penilaian itu hanya sebuah koreksi kecil yang akan membentuk suatu kepribadian yang lebih baik. Aku tidak merasa asing, dari semua teman pria yang kenal bahkan dekat dengan ku dan menjalin suatu hubungan spesial dengan ku tetap memperlakukan aku dengan sangat baik dan terhormat. Aku bingung dengan keistimewaan ku sendiri, kadang aku merasa tidak pantas mendapatkan semuanya. Seperti burung yang bebas mengepakkan sayapnya, terbang menari – nari di atas awan bernyanyi lalu berkicau riang tanpa beban. Ku pikir itu hal biasa yang wanita lain rasakan, tapi menurut ku itu luar biasa. Ah, sudah biasa aku seperti kegirangan tanpa arti. Keinginan menjadi orang yang sukses terkadang sulit, menjadi orang baik pun seperti anak sekarang yang mengungkapkan ketika patah hati dengan sebutan “galau”. Aku bertumpu pada satu tujuan hidup menjadi wanita terbaik untuk keluarga dan karir ku nanti. Aku sangat menikmati dunia ku, lebih condong bercita - cita seorang penulis besar sebesar alam semesta. Ketika ku memberi peluang kepada seorang yang punya cinta, tidak jarang jalannya semulus jalan tol. Konstruksi yang membangun diri ku belum cukup menuruti semua keinginan ku. Aku hampir kalah dengan keadaan, layaknya sebuah hukum mentaati tapi tidak terlaksanakan dengan baik. Aku bukan pengomentar yang baik tapi aku mempunyai kekuatan menampung semua kata demi kata yang hebat dari semua kerabat.Perkataan yang terlontarkan dari mereka dapat ku sortir dengan teliti, dan menjadikan sebuah inspirasi tulisan ini. Bagian mana aku tidak tahu pasti, menentukan posisi itu sulit lebih baik aku memlilih secara acak. Akan tetapi keamburadulan seseorang itu menjadi patokan yang tidak sempurna.

Aku bukan orang yang perhatian, tapi tetap menjunjung kepedulian. Sering aku ingin menjadi awan yang menurunkan hujan, matahari yang menebarkan pesona cahaya, teratai yang berkilau di genangan danau, menghasilkan yang megah dan elegan. Karya terbesar ku sampai saat ini masih tertampung di warna – warni debu yang menjuntai. Kebahagiaan seseorang bukan dinilai dari harta atau besarnya cinta yang diberikan, tapi kebahagiaan adalah dimana orang tersebut mampu berperan dan mengendalikan masalah yang pelik dari suatu kehidupan. Berjuta rangkaian kata yang aku tulis, tapi itu tidak menjamin kesuksesan yang dalam. Apalagi yang aku harapkan dari suatu kehasratan memiliki dunia, hampir tidak diketahui oleh banyak orang. Berapa persen keuntungan aku hidup di dunia, keuntungan memiliki keluarga yang lengkap, dicintai orang – orang yang super hebat, mempunyai mimpi yang besar. Aku mampu mengibaratkan semua kata dalam bentuk kiasan indah, sulit ditebak apalagi untuk diterjemahin dengan cepat. Menghadiahkan cerita indah kepada seluruh alam semesta, menyempurnakan yang belum tersusun dengan rapi. Suara berat yang pernah menggema di telinga ku memberikan kesan kecintaan tersendiri, namun setelah dilirik itu tidak mungkin terjadi. Secara visual aku belum bisa mengartikan kelengkapan tanpa ada keramaian. Kehidupan hanya sebuah puzzle yang diperlukan ketelitian tinggi untuk menyusunnya, layaknya kesetaraan antara penyusunan ubin yang satu dan yang lainnya. Keadaan yang menuntut kebebasan dalam berkarya, hal yang tidak serupa dengan amanat orangtua yang diberikan. Mereka memang tidak mengetahui garis dari dimulainya aku berlari. Tak banyak pengucapan yang salah, lalu fatal akhirnya. Lebih baik diam, cukup dengan keikraran sejati. Hebat betul orang – orang dalam persekutuan dapat menghancurkan kerasnya peran yang dimainkan.
Cinta ku dulu lebih melekat, akrab dan hangat. Menemukan sosok seperti itu sulit sekali, dan nampaknya langkah. Menjaga cinta itu jalannya mudah, tapi alurnya berliku seperti tubuh seekor ular. Dingin ini menyentuh hingga ke tulang rusuk, semestinya waktu itu dia berani memutuskan satu keputusan yang pas. Kepentingan itu masih menggantung di langit atap rumah, mirip seperti gantungan kunci hadiah sebuah hajatan. Apa yang telah terbilang, masih bisa dibatalkan tapi sifatnya merugi. Bukan suatu masalah mereka menilai ku seperti apa, tapi aku tak akan memberi tanda jika tidak ada nyala api. Tidak terlalu fokus untuk dia memilih atau terpilih, aku tetap santai menikmati indahnya ukiran itu berjalan dengan dibutuhkan sandaran. Meraihnya mudah, mendakinya rumit bak benang kusut.

Aku belum menemukan orang yang tepat, tepat menaruhkan hatinya untuk ku. Terlebih aku sekarang tidak banyak bertindak mencoba mengerti keadaan hidup. Mati terpecah belah nyali yang sudah terkumpul malah disia – siakan seakan ada hari esok. Ingat akan hal sekecil apapun, namun tidak untuk suatu problematika yang sangat besar. Aku manusia paling aneh, jika ada penambahan waktu ingin memutar ulang waktu agar tidak menjadi sebuah produk yang gagal. Belum menemukan titik terang dari jalan hidup ku, aku masih plin plan. Suasana hati boleh menjadi patokan aku memahami karakter mereka, tapi pasti akan kembali pada sebuah kecocokan. Mata ini masih sempurna, tapi tertutup sedikit untuk berbagi melirik situasi lain. Terperangkap itu memang tidak enak, terjepit di segala sisi. Mengerikan memang, tapi aku harus tetap bertahan lebih lama lagi sampai titik jenuh. Mereka berpendidikan tetapi tidak mencerminkan perilakunya, cenderung mirip pengangguran. Aku suka penampilan baru, elegan dan tidak monoton. Dan mereka bilang aku selalu menjadi pusat perhatian semua orang, bahkan yang belum mengenal ku ingin meniru gaya ku. Aku seperti diperbudak oleh waktu dan tempat. Sungguh terjepit, aku bukan orang yang nyaman dalam satu keadaan, dua sampai tiga kali kesempatan terbaru aku pasti ada di sana. Mereka punya prinsip yang tidak tentu tapi bisa dikategorikan hebat, lebih mengandalkan ego. Tidak pernah betah ketika berada di samping mereka, terkecuali dengan dia. Aku lebih cenderung mengingat ketika ku bersamanya, walau kami menjalankannya seperti berniat menggapai sebuah bintang tapi hanya bisa meneropongnya jarak jauh. Cukup mendapatkan kabar dari dia aku sudah merasa tenang, dan memantapkan hati kalau ia yang terbaik. Pikiran itu tidak selamanya berhasil aku jaga dengan baik, buktinya Tuhan berkata lain. Kenangan bersamanya mungkin kenangan yang terpanjang jika diibaratkan masa itu seperti bekerja 24 jam non-stop. Penyesalan itu hal biasa menurut ku, karena aku tipe yang terlalu cepat memberikan keputusan. Sering berkesimpulan itu Cuma bagian dari perjalan hidup ku, tapi menikung tajam. Kejujuran adalah bab utama dalam buku kebijaksanaan, kamus seperti ini selalu menghiasi aktivitas ku apa pun bentuknya. Terlalu jujur juga mereka bilang tidak baik, seterusnya akan jadi bumerang bagi ku sendiri. Pernah ingin melakukan sebuah perubahan yang setelah itu dunia akan tahu akan hal itu, tapi aku terlalu lemah. Mengikuti trend sekarang banyak menyesatkan daripada memberi yang berarti. Kebiasaan manusia modern hanya bertalenta yang kualitasnya bak membuat kue namun tidak menggunakan bahan pada tempatnya. Masa lalu itu cukup memicu adrenalin, memainkan selancar di atas gelombang pantai yang besar sangat sulit melupakannya. Memerdekakan diri dari belenggu masa lalu itu sederhana, asal mengetahui kuncinya dunia akan menyambut dengan senang hati. Suara hati perlu ikut menetapkan pilihan yang selektif, salah satu kutipan yang ketika saat itu aku merasakan “kegalauan”. Hal serupa harus dimusnahkan, karena sewaktu – waktu akan muncul ingatan yang rumit itu.

Senin, 02 Juli 2012

OLD



September 2011...

"Amora yah ? Sapa Keiko"
"Ya, saya Amora. Panggil saya Ara saja" dengan melontarkan senyuman Amora berjabat tangan dengan Keiko yang masih terlihat canggung.
"Ayo masuk, hari ini udah mulai kerja kan?" Tanya Keiko meyakinkan.
"Ya, terakhir datang sebelum lebaran waktu itu bulan puasa, interview dengan HRD" ucap Amora sambil menuju ruangan kerja.

Ruangan berukuran 4 X 5 meter, tertata rapi pagi itu. Pukul sudah menunjukan jam 9 pagi, namun pegawai kantor belum juga berdatangan. Hanya datang seorang pak tua yang tidak lain adalah Kepala Bagian Divisi yang saat ini jumlah keanggotaannya bertambah dengan hadirnya Amora di sisi mereka. Perkenalan yang indah di pagi nan ceria itu, welcome real my life ucap Amora dalam hati.

Awal perkenalan itu Amora bertemu dengan orang - orang baru, suasana baru, dan "kekasih baru".
Menjalin kerja sama dengan Keiko, bertatap muka dengan para senior. Impian Amora untuk menjalin kerja sama di kota rantauannya kini tercapai. Amora menjadi junior kesayangan setelah Keiko. Bertemu keluarga baru yang jauh berbeda dengan kehidupannya dulu, canda tawa yang dulu tidak ia dapatkan. Sekarang semuanya telah ada di dalam genggaman tanggannya.

"Pagi Pak Krisna !" sapa Amora dengan lembut
"Yo, pagi Amora." Dengan senyum garis kerut itu terlukis di kening bos nya.
Sapaan itu menjadi udara segar di pagi hari yang cerah, wish me luck pintanya dalam hati.

Pak Krisna merupakan bagian penting di divisi pada jabatan Amora sekarang. Bergabung selama 10 tahun, menjadi pemimpin yang bijaksana, arif dan disukai banyak orang dengan jiwa humornya yang tinggi. Sekaligus pembimbing yang baik bagi Amora. Sabar mengajari Amora dalam masa pelatihan, agar menjadi satu kesatuan yang utuh agar tercapainya target yang di tetapkan hingga akan menjadi result yang baik dari seluruh pekerjaan yang di handle oleh Amora.

" Untuk 1 dan 2 hari ini kamu bisa mempelajari dari contoh pekerjaan yang telah lalu. Nanti kalau ada yang kurang jelas, bisa ditanyakan kepada saya atau Keiko, jangan ragu - ragu untuk bertanya" Pak Krisna mencoba membuka percakapan pagi itu
" Baik pak, mudah - mudahan saya bisa bekerja dengan baik, mohon bimbingannya pak" tersenyum seraya Amora melontarkan gigi kelinci nan bersih berjajar rapi bak barisan pasukan tentara yang sedang berlatih.

Berperan sebagai wanita karir, bekerja cerdas merupakan sosok seorang Amora. Di segani banyak orang, walau di sisi lain ia memiliki banyak kekurangan. Ruangan berpetak itu menjadi lebih hidup dengan hadirnya sang jelita Amora. Senior dan junior yang bekerja sama dengan baik, membentuk diri Amora menjadi orang yang ambisius dalam bekerja alias work holic. Kecintaan Amora terhadap perusahaan, pekerjaan, dan keluarga besar perusahaan tersebut membentuk suatu partikel yang kuat. Amora seakan mendapatkan mukjizat yang luar biasa dengan mimpinya yang menjadi nyata. Rekan kerja yang begitu solid, walaupun senior - seniornya sudah berumur paruh baya, tidak ada space diantara mereka. Amora merasa ia adalah bagian inti dari keluarga besar ini yang akan mengantar dia menjadi lebih baik dalam meraih ilmu, namun semua mimpinya sirna bak ombak menerpa batu karang.

Desember 2011...

"Ra kamu pake BB yah ?" Tanya Pak Raymon penasaran.
"Ya pak, kenapa?" Balasnya cepat.
"Pin BB berapa ?" Tanya Pak Raymon berniat untuk bertukar pin dengan Amora setelah sesaat jam makan siang.
"28366EB3" jawab Amora singkat.
"Udah masuk yah, Ra ?" Pak Raymon memastikan.
"Belum pak, delay deh kayanya". Amora seakan enggan untuk melanjutkan percakapan.

Seharian pekerjaan untuk hari itu sungguh banyak, kebiasaan setiap perusahaan jika akhir tahun tiba. Walau begitu Amora tetap riang gembira untuk menyambut akhir tahun meskipun pekerjaannya tiada henti. Keinginan berkumpul bersama keluarga cemara di depan mata. Mengakhiri akhir tahun bersama orang - orang yang dicintai, menikmati secangkir kopi di pagi hari. Maklum Amora gadis yang genap berumur 21 tahun desember ini, hidup seorang diri di ibu kota. Merantau dengan kebulatan tekad dan keberanian, tanpa rasa lelah sedikit pun. Tiga setengah bulan berlalu, pertemanan antar rekan kerja semakin erat. Canda tawa Pak Rusdi yang sangat berperan dalam mengisi kekosangan Amora. Pak Rusdi dan Amora mempunyai bakat yang sama, sifat keduanya yang periang membuat orang lain merasa nyaman jika kedua orang ini hadir dalam waktu yang bersamaan.

" Pak Rusdi, piye yah kalo saya ndak bisa selesein kerjaan saya malam ini ?" Keluh Amora.
" Saya ndak yakin kalo kamu ndak bisa menyelesaikannya, pelan - pelan asal selamat" nasehat Pak Rusdi.
" Wong aku ndak sanggup og kalo kerjaannya kejar tayang begini" Amora seakan ingin mengikuti logat khas Pak Rusdi.
" Yoweis, itu terserah kamu, toh selama ini kamu fine aja ngerjainnya tanpa keluhan, saya yakin kamu bisa. Biasanya juga kamu begini, tapi akhirnya rebes juga." Pak Rusdi dengan bijaksana masih tetap melontarkan candaannya malam itu.
" Hehehe". Seperti biasa Amora hanya nyengir, hingga tampak kedua gigi kelinci Amora yang menandakan untuk mengakhiri pembicaraan.

Tidak ada yane meragukan mengenai kedekatan mereka. Seisi kantor pun sudah biasa melihat keakraban mereka yang terbentuk secara spontan itu, hingga membuat orang lain merasa iri. Pak Rusdi dengan pesona dermawannya membuat setiap orang jatuh hati akan kebaikannya. Sosok seorang bapak yang dibanggakan semua orang. Bukan hal yang mustahil bagi Pak rusdi untuk tidak mencintai anak - anak. Kasih sayangnya yang besar terhadap keluarga mampu mengalahkan nyawanya. Mobil melaju kencang setelah makan malam yang hampir setiap malam mereka lakukan, bertanda mengakhiri malam panjang mereka. Keakraban mereka merupakan keajaiban hidup bagi Amora, namun menjadi bumerang dalam hubungan percintaan Amora.

Jedar jeder jedug...
31 Desember 2011
Pukul 12.00 malam

Kling. Sebuah pesan masuk untuk Amora.
" Firework, HAPPY NEW YEAR ".
Salah satu pesan broadcast di blackberrynya. Seperti biasa Amora sudah menduga pesan yang tidak penting itu pesan dari Pak Raymon. Pria tampan yang menyandang status playboy dan sedikit sombong. Abaikan.
Dengan bergantinya tahun, semua orang mempunyai harapan baru, dan semangat baru. Namun tidak untuk Amora si gadis periang penggemar kuliner. Dia selalu berusaha tersenyum meskipun kakinya sulit melangkah ke ibukota. Meninggalkan keluarga cemara itu sama saja artinya ia harus memutar otak untuk mencari cara agar setengah ion di dalam tubuhnya tidak terus - menerus membekas di kasur kesayangannya. Terlalu singkat pertemuan itu.

" Ma, pa, kereta ku 10 menit lagi berangkat" ucap Amora setengah hati.
" Hati - hati di jalan, kerja dengan baik, jaga kesehatan, salam untuk orang - orang kantor" isi pesan singkat ibunda Amora.

Jakarta...
Pukul 03.00 sore.
Ramai sekali ibukota ini, panas, sesak, bau, keluh Amora dalam hati.
Rasa malas yang terus membelenggu Amora sesampainya di kamar rusun itu semakin bertambah. Musim hujan di awal tahun baru kali ini tidak mempengaruhi semangat Amora. Sikap Amora yang mudah bosan menjadi pengaruh besar dalam pekerjaannya. Tidak sering niat malas bekerjanya muncul. Selama lima bulan bekerja ia merasa belum bisa memberikan hasil yang baik kepada atasannya, ia merasa selalu gagal dalam bekerja. Yang kemudian kegelisahan menyelimuti otaknya sehingga tidak jarang dia pun cepat berpikir jelek tentang dirinya sendiri. Namun, di sisi lain Pak Krisna yang tidak lain adalah bos nya sendiri sangat puas dengan hasil kinerja Amora.

" Kei, gue takut akan satu hal" tegas Amora
"Apaan sih lo ganggu aje deh yah" dengan nada riang Keiko mencairkan suasana.
" Sebenarnya kerjaan gue di mata Pak Geger bagus ga sih?" tanya Amora penasaran.
"Yaelah lo lagi, udeh santai aje. Pak Geger emang terlalu perfeksionis dan detail kalo menilai kerjaan orang lain, tapi belum tentu juga kerjaannya bener. hahaha" logat betawi yang khas dari sang pecinta jepang.
"Iya sih, i hope so" balas Amora nyengir kuda.

Keiko rekan kerja Amora merupakan junior termuda setelah Amora. Keiko jenius, jenaka dan pesiasat yang hebat. Amora kagum kepada Keiko, dengan segala kehumorisannya. Meskipun awalnya Keiko menjengkelkan bagi Amora karena sikap cueknya,tetapi dengan seiringnya waktu Amora semakin tahu bahwa Keiko yang ia kenal adalah seorang yang cerdas.
Pukul menunjukan 2 siang. Satu hal yang paling sulit Amora lewatkan yaitu pantulan cahaya dirinya sendiri yang menahan rasa kantuk dari layar laptopnya. Seketika baru sedetik kelopak matanya menutup, Amora dikejutkan karena handphonenya berdering bertanda pesan masuk via blackberrynya. Tetapi tidak untuk kali ini ia tampakan kecuekannya, Amora dengan sigap menarik handphonenya dengan cepat memutar bola matanya. Lalu membacanya, berharap pesan itu bisa menghilangkan rasa kantuk yang luar biasa hebatnya. Dan siang itu menjadi siang yang berkesan bagi Amora dan Pak Raymon.

"Untung deh, jadi aku gak khawatir" pesan Pak Raymon
"Hah? Apa pak? Ada yang salah?" Tanya Amora kebingungan.
"Itu katanya lagi dapet" balas Pak Raymon singkat tanpa basa basi.
"Mau tau aja" lelucon Amora
"Yaudah deh, minum obat gih biar cepat sembuh sakitnya" perhatian yang tidak biasa Pak Raymon berikan pada Amora.
"Tumben perhatian, biasanya pepatahnya menyesatkan. Hehehe" canda Amora.
"Hehehe, mahal loh dapat perhatian dari aku" balas Pak Raymon.
"Okay, siap bos" Amora melayangkan senyuman manisnya.
"Eh, Ra nanti main ga?" Pak Raymon seakan tak ingin obrolannya segera berakhir.
"Main apa yah Pak Ray?" Seraya Amora memberikan emoticon.
"Yaaaahh, main badmintonlah, masa main congklak" Pak Raymon tak mau kalah mengeluarkan lawakannya.
"Hehehe, becanda kok Pak Ray, Ara insya allah main deh" balas Amora
"Nah gitu dong, nanti bareng yah pulangnya" mencoba menawarkan pertolongan.
Tanpa berkata - kata lagi Amora segera meletakkan handphonenya, karena ia tahu sudah waktunya untuk bekerja lagi. Di saat bersamaan Pak Raymon yang duduk tepat di belakang Amora terus berharap agar semua rencananya berjalan dengan sempurna.

Adzan magrib berkumandang, segala bentuk aktivitas di kantor berhenti sejenak. Tetesan air wudhu terpancar di wajah teduh gadis keturunan Bugis Jerman itu. Putih bersih nampak natural dan tetap saja kesan cueknya tidak pernah bisa hilang.

"Pak Miko saya duluan yah" pamit Amora kepada Pak Miko yang merupakan rekan kerja sekaligus guru olahraga yang baik.
"Yo, yo ati - ati" jawab Pak Miko ramah.

Rintik hujan malam itu tidak membuat Amora khawatir. Berjalan menyusuri ruangan, sambil bernyanyi riang penuh senyuman. Satu langkah bagaikan seribu langkah. Entah apa yang ada di benaknya saat itu. Tidak nampak rasa kekhawatirannya yang seperti biasa ia munculkan. Enggan rasanya untuk pulang. Jumat yang indah, bisiknya dalam hati.

"Tunggu di bawah yah Ra, aku masih beres - beres dulu" Pak Raymon melayangkan pesan melalui blackberry mesengernya.
"Lah emang pulang bareng yah pak?" Tanya Amora heran.
"Iya Amora sayang" ucap Pak Raymon lembut.
"Sayang ? Aduh Pak Raymon aneh banget deh"
"Dulu teman mu juga sering kok pulang bareng sama aku, bener nih ga mau? Ujan loh di luar" Pak Raymon mempertegas kalimatnya.
"Masa sih? Ga enak ah, ngerepotin Pak Ray, lain kali aja"
"Sekalian makan di luar yah, tunggu di parkiran jangan kemana - mana" balas Pak Raymon cepat.

Setelah dari perkenalan awal antara Pak Raymon dan Amora melalui blackberry messenger, Amora tidak menyadari ketika itu pula "sosok kekasih" itu pun muncul. Tanpa disadari selama satu bulan setengah mereka menjalin kasih, namun tidak mudah dalam membinanya. Amora gadis yang super cuek. Sampai suatu ketika Pak Raymon mengungkapkan perasaannya kepada Amora. Namun, bagi Amora semua itu terlalu cepat. Belum tiba sang surya menampakkan diri, begitu cepat angin surga berhembus.

"Ra, aku kangen" sapa Pak Raymon via blackberry messenger.
Seketika Amora sesegera mungkin menyiapkan amunisi agar bentengnya tidak runtuh. Apapun yang terjadi itu akan menjadi bumerang yang dashyat. Amora seorang gadis yang masih sangat labil mengenal cinta, merasakan sayang yang sebenarnya pun sulit. Tapi, pesona Pak Raymon tidak bisa dielakkan olehnya. Satu ucapan tidak dapat membuat Amora luluh. Percaya akan angan yang dulu dapat memusnahkan segalanya. Butiran keringat yang membentuk partikel tajam, takkan mampu merubah semuanya. Sinar itu sudah terperangkap dalam tubuhnya. Sekujur tubuh membeku, meledakkan seisi dunia. Saat hati dan pikiran meradang menjadi bara api yang mereka kirimkan kepada semesta.

"Ada - ada gajah yah Pak Ray ini" jawab Amora cuek.
"Ra, aku kangen kamu, kamu kangen gak sama aku?" Tanya Pak Ray lagi.

Ego itu tak mau pergi dan takkan kalah. Siasat demi siasat tak mampu menipu dirinya. Sebelum letih mencapai puncak, lebih baik turun dan mengalah. Bak bunga dihinggapi sang lebah, hanya diam membisu. Akan jadi apakah ini?.

"Assalamualaikum" Pak Raymon menyapa seisi ruangan.
"Waalaikum salam Pak"Keiko dan Amora menjawab serentak.
"Ya ampun yah, gak ada yang coba jawab salam saya, ckckc" Pak Raymon membalas sambil menggelengkan kepala.
"Waalaikum salam Pak Ray" Amora menjawab dengan nada nyengir dan sedikit kesal dengan keisengan di pagi mendung itu.
"Nah gitu dong" seperti biasa Pak Raymon membalas dengan senyuman genitnya kepada Amora.

Senin pagi kelabu. Sang surya enggan menampakkan dirinya, bersembunyi lalu tenggelam. Pagi itu tidak seakrab dan sedekat biasanya. Dari jarak pandang yang jauh Amora menatap papan putih dengan goresan tinta hitam di atasnya, tidak berkilau, tampak pucat tak tersentuh. Ruang petak itu kosong, volume radio Pak Miko yang sedikit menggema tapi tetap kosong. Pak Raymon dan Amora sibuk dengan handphone dan headset masing - masing, begitu pula Keiko yang tampak antusias keluar masuk forum diskusi online. Hanya jari - jari itu menari gemulai di atas keyboard laptop. Tak ada yang peduli dengan kehampaan itu. Para guru besar pun tak tampak batang hidungnya.

"ID facebook mu apa, Ra?" Tanya Pak Raymon yang sudah sejak lama penasaran dengan gadis lesung pipi ini.
"Mau tau aja ih, cari aja pasti gak ketemu" Amora mencoba memberikan candaan renyah di senin mendung.
"Yaaahhh, capedeeh" jawab Pak Raymond malas.
"Emang kenapa sih, kayanya pengen tau semuanya tentang aku, heran deh" balas Amora dongkol.
"Emang salah yah, Ra? Nanti kalau mau makan, biasa nitip yah" sambil memainkan mata genitnya Pak Raymon terus - terusan menggoda Amora.
"Maybe yes, maybe no" balas Amora singkat.

Pikirnya akan buang waktu saja jika urusannya diperpanjang. Percuma menghabiskan waktu dengan Pak Raymon, Amora benci Pak Raymon.

"Mau bubur kacang ijo ga?" Kali ini obrolan mereka tidak melalui blackberry messenger.
"Ga ah, saya laper pak ga pengen yang manis - manis" jawab Amora lembut.
"Bilang ke ob dong siapa tau mau beliin bubur sekalian makan malam mu, oke" sahut Pak Raymon tanpa ragu.
"Ga ah, situ yang perlu kok jadi saya korbannya. Pasti Mas Tanto ga mau, jam segini jadwalnya beres - beres ruangan" jawab Amora ketus.
"Yah, kok gitu sih. Mau yah bantuin aku, kalo cewe yang minta pasti dia mau" jelas Pak Raymon.
"Ga ah, Pak Ray aja sendiri. Lagian saya mau beli sendiri" balas Amora kesal.
"Ayolah, sekali aja, plisss" bujuk Pak Raymon

Entah apa yang sedang dipikirkan Amora saat itu. Amora menjadi tidak biasa, walau seribu cara Amora menolak permintaan Pak Raymon, tapi kali ini Amora menjadi "jinak". Dengan rasa sedikit malas Amora menghampiri office boy yang lagi duduk santai dan segera melaksanakan perintah Pak Raymon yang sedari tadi mengawasi obrolan antara Amora dan Mas Tanto. Namun, hari itu menjadi sebuah malapetaka bagi Pak Raymon. Amora tidak berhenti memaki - maki dirinya, kenapa ia harus mau menuruti semua perintah Pak Raymon. Amora kesal sejadi - jadinya, bak bison siap menerkam mangsanya. Menggegam tas erat - erat, badan sigap berjalan cepat, sapaan Pak Raymon pun tidak ia hiraukan. Hari itu Pak Raymon sungguh menyebalkan.

Tidak ada yang mengetahui perihal tadi malam yang mereka alami. Pagi itu seperti biasa, datar dan tanpa maaf yang terucap dari mulut Pak Raymon, seakan tidak terjadi apa - apa. Duduk, lalu pergi lagi mencari sarapan bagi keduanya. Sang surya berdiri tepat diatas kepala, memancarkan terik yang menyilaukan mata. Jam istirahat siang pun tiba. Waktu begitu cepat berlalu, malam menjemput. Tak banyak yang Amora lakukan hari ini. Tidak jarang sekali atau dua kali jari - jarinya menari diatas keyboard laptop yang berlayar datar itu. Beberapa kali sapaan Pak Raymon di balas singkat dan rasa malas yang berkepanjangan, hari itu Amora tak kunjung "sembuh". 

"Pagi semua" sapa Pak Raymon dengan centilnya
"Pagi" sapa Keiko datar

Tanpa berucap banyak, Amora hanya membalikkan lekukan badannya yang terlihat gemulai kepada Pak Raymon. Pagi itu nampak  jelas sorot mata Pak Raymon yang tidak biasa kepada Amora. Merasa bersalah, tidak tenang, dan kekhawatiran yang mendalam. Banyak rahasia di pagi itu. Kehampaan yang menghampiri begitu dingin, pagi itu bukan milik mereka.



“Main yok, Ra” ajak Pak Miko kepada Amora.
“Malu og, moso tiap hari aku pinjem raketnya Pak Miko”, canda Pak Miko menggelikan.
“Hehehe, oke deh paaakk. Siap” jawab Amora mantap.

Awan yang bersahabat. Hari yang tepat untuk tidak melupakan hal yang sederhana terjadi diantara dua insan yang sedang “kasmaran”. Di bawah rembulan yang malu menampakkan diri, ketenangan hati seindah pandangan. Rasa yang mendalam menggumpal membentuk secercah harapan, setelah butiran – butiran bak bola kristal itu turun dengan tertib. Tak ingin keduanya melewati malam ini dengan amarah.

“Ra, tunggu dibawah yah” seperti biasa Pak Raymon mengajaknya pulang.
“Okeyip” balas Amora. kata singkat sambil mengacungkan kedua jempol manisnya kepada Pak Raymon.

Parkiran kantor...
“Mana sih Pak Raymon, katanya disuruh nunggu. Tapi yang ditunggu ga dateng – dateng. Errr” Amora mulai menunjukan rasa kesalnya dengan hilir mudik mengelilingi motor merah milik Pak Raymon.
Tiba – tiba handphonenya Amora berdering, tanda blackberry messenger masuk.

Ra, tunggu yah. Di sini masih ada Pak Miko, ga enak saya.

Pak Raymon seakan menjawab kekesalan Amora. Malam itu Amora tidak peduli jika ia harus menunggu lebih lama lagi. Yang ada dibenaknya, hanya ingin makan dan pulang. Hatinya tidak menunjukan rasa gelisahnya, tak pula merasa risau untuk cepat merebahkan badannya dikasur kesayangannya. Jalanan malam itu masih sangat ramai, enggan rasanya menyendiri di kamar. Langit terang benderang seakan siang cepat kembali. Aroma masakan yang semakin menggoda, membuat Amora tak sabar ingin segera memenuhi meredam gejolak lambungnya. Tepat di satu pilihan menu makanan yang dari kemarin didambakan, akhirnya terpenuhi.

“Bu, pesan dua yah” ucap Amora sambil meletakan tas tangannya di atas meja makan yang terlihat sempit.

Awal pembicaraan itu sungguh tidak terduga. Dengan setenang mungkin Pak Raymon mnyembunyikan perasaan yang berkecamuk didadanya. Tidak ada jarak diantara mereka. Begitu dekat. Tak ada canggung sedikit pun menghampiri. Seperti adegan film.

“Ra, nanti tambah satu porsi lagi yah. Kalo makan dengan porsi kecil ga akan cukup. Ya, ga ?” tanya Pak Raymon sambil memainkan alisnya ke arah Amora memberi kode..
“Bener banget paaak, ini mah bukan porsi saya. Hehehe” balas  Amora senang.
“Ini untuk kamu, habiskan yah biar cepat gemuk” keusilan Pak Raymon yang membuat Amora merasakan ada yang berbeda diantara mereka.
“Maaf, itu kat – kata terakhirnya agak lumrah didengar. Hahaha” Amora menjadi merasakan canggung pada Pak Raymon.
“Udah sini saya suapin. Biasanya kan orang pacaran pasti suap – suapan” rayu pak Raymon.
“Dih, apaan sih. Emang Pak Ray kalo pacaran negitu yah?” tanya Amora mulai dengan nada penasaran.
“Yup” balas Pak Raymon salah tingkah.

Sambil mengambil sendok. Siap untuk memberikan satu suapan kepada Amora. Namun, dengan cepat Amora menolaknya. Ia sadar kalau hal itu tidak harus terjadi. Pak Raymon bukan milikku, ucap Amora dalam hati. Dua detik ia terdiam dan membuang pandangan kearah lain. Aku tahu persis perasaan istrinya Pak Raymon. Terlintas dibenaknya, kalau ia mempunyai seseorang yang menunggunya di pulau sebrang. Aku tidak sepantanya seperti ini.
Malam itu mereka tampak dekat, sangat dekat. Seakan tidak ada orang lain yang menunggu. Tak peduli hari sudah larut malam, tak peduli hujan gerimis. Seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Sedemikian mungkin mereka saling mnutupi perasaan yang selama ini terpendam. Seperti memakan buah simalakama. Terbentur tembok, dan tidak bisa menembusnya. Hingga lapisan yang paling tipis pun masih melekat. Bagaimana pun caranya Amora dan Pak Raymon tidak akan disatukan.

“Ra, kamu sibuk sms siapa sih? Daritadi saya perhatikan handphonenya dipegang. Saya ada di sini, Ra” tegur Pak Raymon yang diam – diam juga menaruh hati kepada gadis pemilik bola mata indah itu.
“Masalah yah buat lo, hahaha. Ini loh Pak Ray, saya lagi balas twitternya teman saya” jawab Amora cepat.
“oh, eh ajarin saya juga dong twitteran. Saya kan juga pengen bisa, memang apa bedanya sama social network lainnya?” tanya Pak Raymon dengan merapatkan kursinya ke arah Amora dan tanpa ragu menyodorkan handphonya.

Ada sedikit celah terbuka lagi, lebih hangat. Diam membisu, aliran darah berhenti. Mata itu tajam mengarahnya. Memberikan kesan kebahagiaan, gigi kaku. Dingin tak bergerak. Tatapan itu, suara itu, membuat Amora tidak bisa dihilangkan dari ingatan Amora. Amora bingung.

“Gini loh mas, hehehe. Sudah di download?. Kalau sudah bisa langsung diinstal” jelas Amora dengan lembut.
“Oh, saya punya yang ini. Kalau ini langsung dipakai?”Pak Raymon mencoba minta kejelasan yang lebih kepada Amora.
“Betul, tapi terserah mau pakai ini atau yang seperti saya pak. Kalau mau praktis sih pakai ini saja, tapi harus download dulu. Pak pulang yuk, udah malem juga” ajak Amora tenang.
“Oke deh, nanti kita sambung lagi. Eh, Ra” belum sempat Pak Raymon menyeselesaikan omongannya, Amora sudah bergegas menginggalkan tempat makan. Seketika itu pula Pak Raymon harus lebih bersabar dengan tingkah laku Amora yang mengecewakan.

“Ra, peluk aku” tiba – tiba kata – kata itu keluar dari mulut Pak Raymon tanpa basa basi. Tanpa malu. Pak Raymon tidak ingin hilang kesempatan untuk kedua kalinya untuk lebih dekat bersama Amora.
“Hah? tadi keracunan makanan apa sih? Ko jadi kaya gini. Makin malam makin gila aja nih si Pak Ray. Ogah ah ngapain jga, bukan muhrim. Emang Pak Ray waktu pacaran kaya gitu yah?” begitulah nada bicara Amora terkesan galak tapi manis.
“Hahaha, iyah” jawab Pak Raymon menutupi semua tentang dirinya.
“Emang udah berapa taun menikah?” ankanya lucu banget paaak” tanya Amora lebih dalam.
“Ehmm. Emang kenapa sih kayanya dari kemarin nanyain itu terus. Pengen tau banget deh kayanya” balas Pak Raymon yang semakin tidak ingin status keluarganya diketahui oleh Amora. Pak Raymon menyembunyikan sesuatu.
“Yaelah, emang salah yah kalo nanya itu. Kan lumrah kalii paakk” bantah Amora kesal.

Obrolan itu semakin intim. Gang itu masih penuh sesak dan sudah tidak tertata dengan rapi alias sudah rawan. Indra pendengar Amora pun masih tajam, seakan tidak ingin melewati satu kata yang diucapkan Pak Raymon. Kali ini Amora terkejut.

“Hah? baru empat tahun? Dan beda 5 tahun? Ckckck” sambil menggelengkan kepalanya, Amora terdiam.

Rasa keingintahuan Amora semakin dalam. Tidak hanya dengan hal perbedaan umur saja yang menggetarkan gendang telinganya. Namun, hatinya pun ikut bergetar.

Ra, tadi saya ingin ngobrol banyak.
Ini menyangkut perasaan saya.
Udah mandi belum? Ga kerasa udah jam segini.
Met tidur yah Ra J

Pesan singkat itu terus menghantui pikirannya, sampai jam dinding berdentang keras menandakan hari telah berganti. Antara ingin memberi respon atau tidak. Tapi tetap malam itu menyenangkan baginya. Pak Raymon sungguh misterius.

Aduh Ra ini rapatnya ga beres – beres. Suntuk banget.

Blackberry messenger itu menjadi harta karun yang menakjubkan. Antara sadar atau tidak, Amora merasa ini bukanlah sebuah mimpi.

Emang dari jam berapa rapatnya? Ngapain aja sih? Kok bisa bebean sih? Rapat yang bener dong ah pak, hahah
Orang arsiteknya agak menyebalkan. Dasar yah kamu. Aku jadi kangen kamu.
Kangen nyubitin aku lagi gitu maksudnya.
Hahahah. Bosen banget nih, coba ada kamu di sini kan bisa jailin kamu.
Paaaakk Raaayyy!! Errr
Hehehe, becanda Ra. Ra, tentang bbm aku semalem gimana? Kok ga dijawab?
Oh, maaf semalam udah tidur. Udah sana rapat aja dulu, nanti ketauan bos.
Ga tau pak, saya ga bisa jawab apa – apa. J
Oh, still love Raka. Oke.
Iyah dong, emang kenapa sih? Pak, bapak lagi puber kedua yah?
Bukan, tapi ke seratus.
Ckckck.

Tetap tidak ada kepastian yang diharapkan Pak Raymon. Hasrat ingin memiliki Amora masih terlihat  jelas. Amunisi terus terisi padat, jangan menyerah. Di satu sisi ada perasaan lain yang berkecamuk di hati Pak Rusdi dengan melihat kedekatan Amora dan Pak Raymon. Amora tidak tahu jauh dilubuk hati Pak Rusdi terbesit kecemburuan yang harusnya bukan miliknya. Amora sudah terperangkap, ada maksud terselubung dibalik kebaikan mereka. Atur ulang siasat, agar mereka tidak memberi respon lebih kepada Amora. Susunan kata yang acak sulit diragnkai, begitu pula hati mereka.

“Oh, sekarang sama Pak Ray”tampak dari kejauhan Pak Rusdi mencoba menanyakan perihal kedekatan Amora dengan Pak Raymon.
“Opo toh pak, tiba – tiba ngomong begitu” elak Amora dengan nada kesal.
“alaah – alaahh pake ngeles lagi kamu nduk” balas Pak Rusdi semakin ingin menampakkan amarahnya.
“Yoo, abisnya Pak Rusdi gitu sih ngomongnya. Jelas – jelas saya ndak ada apa – apa sama beliau” tegas Amora.
“Yoweislah” jawab Pak Rusdi singkat dan menghindari pertengkaran yang tidak etis untuk diteruskan. Dengan wajah datar, Pak Rusdi meninggalkan Amora yang sedari tadi sudah menunjukan sikap ketidakpeduliannya kepada Pak Rusdi sejak kehadiran Pak Raymon disisinya. Langit gelap, hujan pun berlarian ke bumi, mengharapkan suatu yang tidak pasti. Tidak terbalas. Amora mulai tidak konsentrasi dengan pekerjaannya, ada yang merusak perasaannya. Amora mulai berpikir keras, haruskah ia pergi?.

Jumat pagi yang cerah..
Tidak seperti biasanya Pak Rusdi diam seribu bahasa ketika melihat Amora. Pagi itu tidak diawali dengan pagi senyuman. Datar. Hanya raut wajah yang penuh keheranan yang ditampakkan oleh Amora.

"Mbak Ami, Pak Rusdi marah yah sama aku. Kok barusan disapa malah pura - pura ga liat. Huh, bete" celoteh Amora pagi itu.
"Ah, ndak tuh. Perasaan dek Amora aja, hehe" jawab Ami salah seorang office boy di kantor.
"Apa ada yang salah yah sama aku? atauuuu.." belum sempat Amora meneruskan pertanyaannya, Ami langsung menyambar bak kilat.
"Eh, dengar yah, Pak Rusdi itu baaeekk buanget, ndak pernah marah. Coba tanya deh ma Mbah Rakso, mana pernah Pak Rusdi marah" balas Ami sambil menggoda Rakso yang juga merupakan salah satu penghuni pantry di sana.
"Ya gitu, Mbah?" tanya Amora masih terlihat tidak yakin atas penjelasan Ami.
"Apa? marah, ga pernaah nduukk. Udah gausah dipikirin, gitu aja kok repot" Rakso mencoba menjawab dengan santai dengan meniru cara Pak Gusdur berbicara.


“Yoweislah, semoga Pak Rusdi ndak marah sama aku, hehe”Amora coba menenangkan hatinya yang sedang gundah gulana.
“Naaaaahh, gitu dong. Daripada cemberut trus kaya burung perkutut” balas Ami mencairkan suasana.


Kegalauan itu berakhir setelah semuanya terjawabkan. Pak Rusdi menyimpan perasaan yang tak dirasakan oleh Amora. Pak Rusdi mulai menyerah menaklukan hati seorang putri cantik. Harusnya tidak begini. Batinnya berkata, mengalah untuk menang. Sejak kehadiran Pak Raymon, dan Ryan disisi Amora serta seseorang yang terpisahkan oleh jarak dan waktu. Pak Rusdi berhati lembut bagaikan salju, penjaga rahasia yang handal dan dermawan. Tidak ada niat untuk menyakiti atau disakiti. Meninggalkan mereka adalah salah satu cara yang tepat, tanpa memberikan alasan pasti. Tempat jauh, jauh dari kenangan manis. Kubur dalam angan – angan yang hampir terakit dengan baik. Menyembunyikan segala bentuk pandangan yang berdosa, ratapan kasih sayang yang penuh arti. Mencoba mengerti satu demi satu silang kehidupan, keinginan, kegalauan hati.

Blackberry messenger itu terulang lagi dan lagi. Untuk kesekian kalinya berkesan tegang, dalam dan hidup. Maksud ucapan terukir indah dalam bentuk kata – kata. Harus dengan cara apa Amora menaklukan kerasnya tembok Berlin, ketidakpedulian Amora saat itu masih dapat ditembus oleh butiran indah gemerlap berlian, Amora terperangkap lebih dalam. Sekarang ia tampak keci lebih mirip telur ayam yang akan menetas. Ada perbedaan sikap yang ditunjukan oleh Pak Raymon. Entah dari sisi mana perbedaan itu muncul, tidak seperti biasanya keangkuhan itu berdiri tegak.

 






Senin, 08 Agustus 2011

Hitam . Kelam. Hilang.



Ketika aku terbangun dari mimpi itu, aku sadar saat itu pula ku rasakan ada sentuhan yang berbeda di kala pagi..
Dinginnya dia..
Menembus tembok itu, sampai ke relung jiwaku..
Sadar aku masih terjaga..
Aku bingung..
Aku bingung dengan kata yang terdengar berbisik di samping ku..

Ku lontarkan senyuman paling indah milik ibu ku..
Aku masih ingin bersamamu..
Aku masih ingin membuatmu tersenyum..
Aku masih ingin membuatmu merasakan nyaman, damai di dekat ku..
Aku masih ingin menjagamu..
Tak perduli orang lain..
Tak perduli siapa pun itu..
Tak perduli keramaian mengusikku..


Dimana akan ku dapatkan lagi belaian lembut itu ?..
DImana akan ku dapatkan lagi untaian kata - kata indah itu ?..
Tuhan..
Entah berapa lama ini akan hilang, akan lenyap..
Entah sampai kapan perasaan itu kembali..
Maafkan aku Tuhan..
Maafkan aku Tuhan..


Hitam.
Kelam.
Hilang.
Tak bermakna..
Tuhan..
Tolong hilangkan perasaan ini..
Hingga matahari menjemputku kembali..

Langit seakan tak bersahabat dengan aku yang kini hanya bisa melihatnya..
Hanya bisa tersenyum, terdiam tak bisa berkata - kata..
Tapi, kenapa wajah itu begitu polos, lugu dan sendu..
Seakan tidak ada dosa di raut wajahnya yang bulat..
Oh, Tuhan.
Aku ingin menyampaikan kata yang penuh amarah kepadanya !
Aku ingin melakukan sesuatu yang tidak bisa dia lupakan !
Aku ingin memaki diriku sendiri, yang lemah !
Aku ingin mencampakannya, sebelum itu dia lakukan pada ku !

Akankahitu kembali ?..

Semu Tertutup Awan



Hey maret.
9 Bulan aku melaluinya..
9 Bulan aku mengenalnya..
9 Bulan aku disampingnya..
9 Bulan aku menghargainya..
9 Bulan aku membahagiakannya..
9 Bulan aku tersenyum..
9 Bulan aku menangis..
9 Bulan aku mengharapkannya..
9 Bulan aku memahaminya..
9 Bulan aku bersamanya..
9 Bulan aku menemaninya..

Dan kini ..
Entah apakah aku harus percaya atau tidak dengan alasan yang akhirnya, aku pun terus memaksa memutar otak untuk mempercayainya..
Dalam hitungan detik pun Tuhan dapat dengan cepat membolak balikan hati umatnya..
Ini takdir, pikir ku dalam hati..
Tapi, apakah secepat ini semuanya berubah..
Di saat aku telah yakin ia jodohku, saat itu juga engkau mengambilnya..
Di saat aku dapat menggapai satu bintang yang paling bersinar itu, saat itu juga bintang itu redup dengan sejuta rahasia..


Perlahan dia menjauh..
Sangat jauh..
Entah apa yang dia rasakan ketika dia mulai berbeda..
Tuhan..
Ketika itu pula aku mencoba tetap setia
menemaninya..
menunggunya..
Tuhan..
Ketika itu pula air mata ini terus mengalir tanpa sadar..
Ketika itu pula seluruh anggota tubuh ini bergetar..
Ketika itu pula hati ini sakit..

Tidak banyak yang ku ketahui tentang dia..
Tidak banyak yang ku ketahui apa yang dilakukannya..
Tidak banyak yang ku ketahui apa yang dialaminya..
Tidak banyak yang ku ketahui tentang semua perasaannya..
Tuhan..
Jika aku boleh memilih, aku tidak akan menginginkan peran yang selalu disakiti seperti ini..
Jika aku boleh memilih, aku tidak ingin mengeluarkan air mata yang penuh dengan kesia - siaan ini..

Apakah semua yang telah dia alami, haruskah aku sebagai penggantinya ?..
Apakah peran yang dia mainkan, haruskah aku yang merasakannya ?..
Mengapa begitu cepat kau ambil dia ?..
Mengapa cahaya kehadirannya kau redupkan lagi ?..

Tuhan..
Aku harap dalam doa..
Aku tidak dipertemukan dengannya lagi..
Aku masih belum siap untuk kehilangannya kedua kali..