Hanya satu yang mereka salah dalam menilai aku yang berpenampilan serba aneh. Mungkin kata – kata diskriminasi cocok dalam kalimat selanjutnya. Meskipun orang lain menganggap ku aneh, aku tetap tidak peduli. Yang menilai bukan sepenuhnya manusia, aku beragama menjalankan sesuai syariah agama ku. Penilaian itu hanya sebuah koreksi kecil yang akan membentuk suatu kepribadian yang lebih baik. Aku tidak merasa asing, dari semua teman pria yang kenal bahkan dekat dengan ku dan menjalin suatu hubungan spesial dengan ku tetap memperlakukan aku dengan sangat baik dan terhormat. Aku bingung dengan keistimewaan ku sendiri, kadang aku merasa tidak pantas mendapatkan semuanya. Seperti burung yang bebas mengepakkan sayapnya, terbang menari – nari di atas awan bernyanyi lalu berkicau riang tanpa beban. Ku pikir itu hal biasa yang wanita lain rasakan, tapi menurut ku itu luar biasa. Ah, sudah biasa aku seperti kegirangan tanpa arti. Keinginan menjadi orang yang sukses terkadang sulit, menjadi orang baik pun seperti anak sekarang yang mengungkapkan ketika patah hati dengan sebutan “galau”. Aku bertumpu pada satu tujuan hidup menjadi wanita terbaik untuk keluarga dan karir ku nanti. Aku sangat menikmati dunia ku, lebih condong bercita - cita seorang penulis besar sebesar alam semesta. Ketika ku memberi peluang kepada seorang yang punya cinta, tidak jarang jalannya semulus jalan tol. Konstruksi yang membangun diri ku belum cukup menuruti semua keinginan ku. Aku hampir kalah dengan keadaan, layaknya sebuah hukum mentaati tapi tidak terlaksanakan dengan baik. Aku bukan pengomentar yang baik tapi aku mempunyai kekuatan menampung semua kata demi kata yang hebat dari semua kerabat.Perkataan yang terlontarkan dari mereka dapat ku sortir dengan teliti, dan menjadikan sebuah inspirasi tulisan ini. Bagian mana aku tidak tahu pasti, menentukan posisi itu sulit lebih baik aku memlilih secara acak. Akan tetapi keamburadulan seseorang itu menjadi patokan yang tidak sempurna.
Aku bukan orang yang perhatian, tapi tetap menjunjung kepedulian. Sering aku ingin menjadi awan yang menurunkan hujan, matahari yang menebarkan pesona cahaya, teratai yang berkilau di genangan danau, menghasilkan yang megah dan elegan. Karya terbesar ku sampai saat ini masih tertampung di warna – warni debu yang menjuntai. Kebahagiaan seseorang bukan dinilai dari harta atau besarnya cinta yang diberikan, tapi kebahagiaan adalah dimana orang tersebut mampu berperan dan mengendalikan masalah yang pelik dari suatu kehidupan. Berjuta rangkaian kata yang aku tulis, tapi itu tidak menjamin kesuksesan yang dalam. Apalagi yang aku harapkan dari suatu kehasratan memiliki dunia, hampir tidak diketahui oleh banyak orang. Berapa persen keuntungan aku hidup di dunia, keuntungan memiliki keluarga yang lengkap, dicintai orang – orang yang super hebat, mempunyai mimpi yang besar. Aku mampu mengibaratkan semua kata dalam bentuk kiasan indah, sulit ditebak apalagi untuk diterjemahin dengan cepat. Menghadiahkan cerita indah kepada seluruh alam semesta, menyempurnakan yang belum tersusun dengan rapi. Suara berat yang pernah menggema di telinga ku memberikan kesan kecintaan tersendiri, namun setelah dilirik itu tidak mungkin terjadi. Secara visual aku belum bisa mengartikan kelengkapan tanpa ada keramaian. Kehidupan hanya sebuah puzzle yang diperlukan ketelitian tinggi untuk menyusunnya, layaknya kesetaraan antara penyusunan ubin yang satu dan yang lainnya. Keadaan yang menuntut kebebasan dalam berkarya, hal yang tidak serupa dengan amanat orangtua yang diberikan. Mereka memang tidak mengetahui garis dari dimulainya aku berlari. Tak banyak pengucapan yang salah, lalu fatal akhirnya. Lebih baik diam, cukup dengan keikraran sejati. Hebat betul orang – orang dalam persekutuan dapat menghancurkan kerasnya peran yang dimainkan.
Cinta ku dulu lebih melekat, akrab dan hangat. Menemukan sosok seperti itu sulit sekali, dan nampaknya langkah. Menjaga cinta itu jalannya mudah, tapi alurnya berliku seperti tubuh seekor ular. Dingin ini menyentuh hingga ke tulang rusuk, semestinya waktu itu dia berani memutuskan satu keputusan yang pas. Kepentingan itu masih menggantung di langit atap rumah, mirip seperti gantungan kunci hadiah sebuah hajatan. Apa yang telah terbilang, masih bisa dibatalkan tapi sifatnya merugi. Bukan suatu masalah mereka menilai ku seperti apa, tapi aku tak akan memberi tanda jika tidak ada nyala api. Tidak terlalu fokus untuk dia memilih atau terpilih, aku tetap santai menikmati indahnya ukiran itu berjalan dengan dibutuhkan sandaran. Meraihnya mudah, mendakinya rumit bak benang kusut.
Aku belum menemukan orang yang tepat, tepat menaruhkan hatinya untuk ku. Terlebih aku sekarang tidak banyak bertindak mencoba mengerti keadaan hidup. Mati terpecah belah nyali yang sudah terkumpul malah disia – siakan seakan ada hari esok. Ingat akan hal sekecil apapun, namun tidak untuk suatu problematika yang sangat besar. Aku manusia paling aneh, jika ada penambahan waktu ingin memutar ulang waktu agar tidak menjadi sebuah produk yang gagal. Belum menemukan titik terang dari jalan hidup ku, aku masih plin plan. Suasana hati boleh menjadi patokan aku memahami karakter mereka, tapi pasti akan kembali pada sebuah kecocokan. Mata ini masih sempurna, tapi tertutup sedikit untuk berbagi melirik situasi lain. Terperangkap itu memang tidak enak, terjepit di segala sisi. Mengerikan memang, tapi aku harus tetap bertahan lebih lama lagi sampai titik jenuh. Mereka berpendidikan tetapi tidak mencerminkan perilakunya, cenderung mirip pengangguran. Aku suka penampilan baru, elegan dan tidak monoton. Dan mereka bilang aku selalu menjadi pusat perhatian semua orang, bahkan yang belum mengenal ku ingin meniru gaya ku. Aku seperti diperbudak oleh waktu dan tempat. Sungguh terjepit, aku bukan orang yang nyaman dalam satu keadaan, dua sampai tiga kali kesempatan terbaru aku pasti ada di sana. Mereka punya prinsip yang tidak tentu tapi bisa dikategorikan hebat, lebih mengandalkan ego. Tidak pernah betah ketika berada di samping mereka, terkecuali dengan dia. Aku lebih cenderung mengingat ketika ku bersamanya, walau kami menjalankannya seperti berniat menggapai sebuah bintang tapi hanya bisa meneropongnya jarak jauh. Cukup mendapatkan kabar dari dia aku sudah merasa tenang, dan memantapkan hati kalau ia yang terbaik. Pikiran itu tidak selamanya berhasil aku jaga dengan baik, buktinya Tuhan berkata lain. Kenangan bersamanya mungkin kenangan yang terpanjang jika diibaratkan masa itu seperti bekerja 24 jam non-stop. Penyesalan itu hal biasa menurut ku, karena aku tipe yang terlalu cepat memberikan keputusan. Sering berkesimpulan itu Cuma bagian dari perjalan hidup ku, tapi menikung tajam. Kejujuran adalah bab utama dalam buku kebijaksanaan, kamus seperti ini selalu menghiasi aktivitas ku apa pun bentuknya. Terlalu jujur juga mereka bilang tidak baik, seterusnya akan jadi bumerang bagi ku sendiri. Pernah ingin melakukan sebuah perubahan yang setelah itu dunia akan tahu akan hal itu, tapi aku terlalu lemah. Mengikuti trend sekarang banyak menyesatkan daripada memberi yang berarti. Kebiasaan manusia modern hanya bertalenta yang kualitasnya bak membuat kue namun tidak menggunakan bahan pada tempatnya. Masa lalu itu cukup memicu adrenalin, memainkan selancar di atas gelombang pantai yang besar sangat sulit melupakannya. Memerdekakan diri dari belenggu masa lalu itu sederhana, asal mengetahui kuncinya dunia akan menyambut dengan senang hati. Suara hati perlu ikut menetapkan pilihan yang selektif, salah satu kutipan yang ketika saat itu aku merasakan “kegalauan”. Hal serupa harus dimusnahkan, karena sewaktu – waktu akan muncul ingatan yang rumit itu.
