September
2011...
"Amora
yah ? Sapa Keiko"
"Ya,
saya Amora. Panggil saya Ara saja" dengan melontarkan senyuman Amora
berjabat tangan dengan Keiko yang masih terlihat canggung.
"Ayo
masuk, hari ini udah mulai kerja kan?" Tanya Keiko meyakinkan.
"Ya,
terakhir datang sebelum lebaran waktu itu bulan puasa, interview dengan
HRD" ucap Amora sambil menuju ruangan kerja.
Ruangan
berukuran 4 X 5 meter, tertata rapi pagi itu. Pukul sudah menunjukan jam 9
pagi, namun pegawai
kantor belum juga berdatangan. Hanya datang seorang pak tua yang tidak lain
adalah Kepala Bagian Divisi yang saat ini jumlah keanggotaannya bertambah
dengan hadirnya Amora di sisi mereka. Perkenalan yang indah di pagi nan ceria
itu, welcome real my life ucap Amora dalam hati.
Awal
perkenalan itu Amora bertemu dengan orang - orang baru, suasana baru, dan
"kekasih baru".
Menjalin
kerja sama dengan Keiko, bertatap muka dengan para senior. Impian Amora untuk
menjalin kerja sama di kota rantauannya kini tercapai. Amora menjadi junior
kesayangan setelah Keiko. Bertemu keluarga baru yang jauh berbeda dengan
kehidupannya dulu, canda tawa yang dulu tidak ia dapatkan. Sekarang semuanya
telah ada di dalam genggaman tanggannya.
"Pagi
Pak Krisna !" sapa Amora dengan lembut
"Yo,
pagi Amora." Dengan senyum garis kerut itu terlukis di kening bos nya.
Sapaan
itu menjadi udara segar di pagi hari yang cerah, wish me luck pintanya dalam
hati.
Pak
Krisna merupakan bagian penting di divisi pada jabatan Amora sekarang.
Bergabung selama 10 tahun, menjadi pemimpin yang bijaksana, arif dan disukai
banyak orang dengan jiwa humornya yang tinggi. Sekaligus pembimbing yang baik
bagi Amora. Sabar mengajari Amora dalam masa pelatihan, agar menjadi satu
kesatuan yang utuh agar tercapainya target yang di tetapkan hingga akan menjadi
result yang baik dari seluruh pekerjaan yang di handle oleh Amora.
"
Untuk 1 dan 2 hari ini kamu bisa mempelajari dari contoh pekerjaan yang telah
lalu. Nanti kalau ada yang kurang jelas, bisa ditanyakan kepada saya atau
Keiko, jangan ragu - ragu untuk bertanya" Pak Krisna mencoba membuka
percakapan pagi itu
"
Baik pak, mudah - mudahan saya bisa bekerja dengan baik, mohon bimbingannya
pak" tersenyum seraya Amora melontarkan gigi kelinci nan bersih berjajar
rapi bak barisan pasukan tentara yang sedang berlatih.
Berperan
sebagai wanita karir, bekerja cerdas merupakan sosok seorang Amora. Di segani
banyak orang, walau di sisi lain ia memiliki banyak kekurangan. Ruangan
berpetak itu menjadi lebih hidup dengan hadirnya sang jelita Amora. Senior dan
junior yang bekerja sama dengan baik, membentuk diri Amora menjadi orang yang
ambisius dalam bekerja alias work holic. Kecintaan Amora terhadap perusahaan,
pekerjaan, dan keluarga besar perusahaan tersebut membentuk suatu partikel yang
kuat. Amora seakan mendapatkan mukjizat yang luar biasa dengan mimpinya yang
menjadi nyata. Rekan kerja yang begitu solid, walaupun senior - seniornya sudah
berumur paruh baya, tidak ada space diantara mereka. Amora merasa ia adalah
bagian inti dari keluarga besar ini yang akan mengantar dia menjadi lebih baik
dalam meraih ilmu, namun semua mimpinya sirna bak ombak menerpa batu karang.
Desember
2011...
"Ra
kamu pake BB yah ?" Tanya Pak Raymon penasaran.
"Ya
pak, kenapa?" Balasnya cepat.
"Pin
BB berapa ?" Tanya Pak Raymon berniat untuk bertukar pin dengan Amora
setelah sesaat jam makan siang.
"28366EB3"
jawab Amora singkat.
"Udah
masuk yah, Ra ?" Pak Raymon memastikan.
"Belum
pak, delay deh kayanya". Amora seakan enggan untuk melanjutkan percakapan.
Seharian
pekerjaan untuk hari itu sungguh banyak, kebiasaan setiap perusahaan jika akhir
tahun tiba. Walau begitu Amora tetap riang gembira untuk menyambut akhir tahun
meskipun pekerjaannya tiada henti. Keinginan berkumpul bersama keluarga cemara
di depan mata. Mengakhiri akhir tahun bersama orang - orang yang dicintai,
menikmati secangkir kopi di pagi hari. Maklum Amora gadis yang genap berumur 21
tahun desember ini, hidup seorang diri di ibu kota. Merantau dengan kebulatan
tekad dan keberanian, tanpa rasa lelah sedikit pun. Tiga setengah bulan
berlalu, pertemanan antar rekan kerja semakin erat. Canda tawa Pak Rusdi yang
sangat berperan dalam mengisi kekosangan Amora. Pak Rusdi dan Amora mempunyai
bakat yang sama, sifat keduanya yang periang membuat orang lain merasa nyaman
jika kedua orang ini hadir dalam waktu yang bersamaan.
"
Pak Rusdi, piye yah kalo saya ndak bisa selesein kerjaan saya malam ini ?"
Keluh Amora.
"
Saya ndak yakin kalo kamu ndak bisa menyelesaikannya, pelan - pelan asal
selamat" nasehat Pak Rusdi.
"
Wong aku ndak sanggup og kalo kerjaannya kejar tayang begini" Amora seakan
ingin mengikuti logat khas Pak Rusdi.
"
Yoweis, itu terserah kamu, toh selama ini kamu fine aja ngerjainnya tanpa
keluhan, saya yakin kamu bisa. Biasanya juga kamu begini, tapi akhirnya rebes
juga." Pak Rusdi dengan bijaksana masih tetap melontarkan candaannya malam
itu.
"
Hehehe". Seperti biasa Amora hanya nyengir, hingga tampak kedua gigi
kelinci Amora yang menandakan untuk mengakhiri pembicaraan.
Tidak
ada yane meragukan mengenai kedekatan mereka. Seisi kantor pun sudah biasa
melihat keakraban mereka yang terbentuk secara spontan itu, hingga membuat
orang lain merasa iri. Pak Rusdi dengan pesona dermawannya membuat setiap orang
jatuh hati akan kebaikannya. Sosok seorang bapak yang dibanggakan semua orang.
Bukan hal yang mustahil bagi Pak rusdi untuk tidak mencintai anak - anak. Kasih
sayangnya yang besar terhadap keluarga mampu mengalahkan nyawanya. Mobil melaju
kencang setelah makan malam yang hampir setiap malam mereka lakukan, bertanda
mengakhiri malam panjang mereka. Keakraban mereka merupakan keajaiban hidup
bagi Amora, namun menjadi bumerang dalam hubungan percintaan Amora.
Jedar
jeder jedug...
31
Desember 2011
Pukul
12.00 malam
Kling.
Sebuah pesan masuk untuk Amora.
"
Firework, HAPPY NEW YEAR ".
Salah
satu pesan broadcast di blackberrynya. Seperti biasa Amora sudah menduga pesan
yang tidak penting itu pesan dari Pak Raymon. Pria tampan yang menyandang
status playboy dan sedikit sombong. Abaikan.
Dengan
bergantinya tahun, semua orang mempunyai harapan baru, dan semangat baru. Namun
tidak untuk Amora si gadis periang penggemar kuliner. Dia selalu berusaha
tersenyum meskipun kakinya sulit melangkah ke ibukota. Meninggalkan keluarga
cemara itu sama saja artinya ia harus memutar otak untuk mencari cara agar
setengah ion di dalam tubuhnya tidak terus - menerus membekas di kasur
kesayangannya. Terlalu singkat pertemuan itu.
"
Ma, pa, kereta ku 10 menit lagi berangkat" ucap Amora setengah hati.
"
Hati - hati di jalan, kerja dengan baik, jaga kesehatan, salam untuk orang -
orang kantor" isi pesan singkat ibunda Amora.
Jakarta...
Pukul
03.00 sore.
Ramai
sekali ibukota ini, panas, sesak, bau, keluh Amora dalam hati.
Rasa
malas yang terus membelenggu Amora sesampainya di kamar rusun itu semakin
bertambah. Musim hujan di awal tahun baru kali ini tidak mempengaruhi semangat
Amora. Sikap Amora yang mudah bosan menjadi pengaruh besar dalam pekerjaannya.
Tidak sering niat malas bekerjanya muncul. Selama lima bulan bekerja ia merasa
belum bisa memberikan hasil yang baik kepada atasannya, ia merasa selalu gagal
dalam bekerja. Yang kemudian kegelisahan menyelimuti otaknya sehingga tidak
jarang dia pun cepat berpikir jelek tentang dirinya sendiri. Namun, di sisi
lain Pak Krisna yang tidak lain adalah bos nya sendiri sangat puas dengan hasil
kinerja Amora.
"
Kei, gue takut akan satu hal" tegas Amora
"Apaan
sih lo ganggu aje deh yah" dengan nada riang Keiko mencairkan suasana.
"
Sebenarnya kerjaan gue di mata Pak Geger bagus ga sih?" tanya Amora
penasaran.
"Yaelah
lo lagi, udeh santai aje. Pak Geger emang terlalu perfeksionis dan detail kalo
menilai kerjaan orang lain, tapi belum tentu juga kerjaannya bener.
hahaha" logat betawi yang khas dari sang pecinta jepang.
"Iya
sih, i hope so" balas Amora nyengir kuda.
Keiko
rekan kerja Amora merupakan junior termuda setelah Amora. Keiko jenius, jenaka
dan pesiasat yang hebat. Amora kagum kepada Keiko, dengan segala
kehumorisannya. Meskipun awalnya Keiko menjengkelkan bagi Amora karena sikap
cueknya,tetapi dengan seiringnya waktu Amora semakin tahu bahwa Keiko yang ia
kenal adalah seorang yang cerdas.
Pukul
menunjukan 2 siang. Satu hal yang paling sulit Amora lewatkan yaitu pantulan
cahaya dirinya sendiri yang menahan rasa kantuk dari layar laptopnya. Seketika
baru sedetik kelopak matanya menutup, Amora dikejutkan karena handphonenya
berdering bertanda pesan masuk via blackberrynya. Tetapi tidak untuk kali ini
ia tampakan kecuekannya, Amora dengan sigap menarik handphonenya dengan cepat
memutar bola matanya. Lalu membacanya, berharap pesan itu bisa menghilangkan
rasa kantuk yang luar biasa hebatnya. Dan siang itu menjadi siang yang berkesan
bagi Amora dan Pak Raymon.
"Untung
deh, jadi aku gak khawatir" pesan Pak Raymon
"Hah?
Apa pak? Ada yang salah?" Tanya Amora kebingungan.
"Itu
katanya lagi dapet" balas Pak Raymon singkat tanpa basa basi.
"Mau
tau aja" lelucon Amora
"Yaudah
deh, minum obat gih biar cepat sembuh sakitnya" perhatian yang tidak biasa
Pak Raymon berikan pada Amora.
"Tumben
perhatian, biasanya pepatahnya menyesatkan. Hehehe" canda Amora.
"Hehehe,
mahal loh dapat perhatian dari aku" balas Pak Raymon.
"Okay,
siap bos" Amora melayangkan senyuman manisnya.
"Eh,
Ra nanti main ga?" Pak Raymon seakan tak ingin obrolannya segera berakhir.
"Main
apa yah Pak Ray?" Seraya Amora memberikan emoticon.
"Yaaaahh,
main badmintonlah, masa main congklak" Pak Raymon tak mau kalah
mengeluarkan lawakannya.
"Hehehe,
becanda kok Pak Ray, Ara insya allah main deh" balas Amora
"Nah
gitu dong, nanti bareng yah pulangnya" mencoba menawarkan pertolongan.
Tanpa
berkata - kata lagi Amora segera meletakkan handphonenya, karena ia tahu sudah
waktunya untuk bekerja lagi. Di saat bersamaan Pak Raymon yang duduk tepat di
belakang Amora terus berharap agar semua rencananya berjalan dengan sempurna.
Adzan
magrib berkumandang, segala bentuk aktivitas di kantor berhenti sejenak.
Tetesan air wudhu terpancar di wajah teduh gadis keturunan Bugis Jerman itu.
Putih bersih nampak natural dan tetap saja kesan cueknya tidak pernah bisa
hilang.
"Pak
Miko saya duluan yah" pamit Amora kepada Pak Miko yang merupakan rekan
kerja sekaligus guru olahraga yang baik.
"Yo,
yo ati - ati" jawab Pak Miko ramah.
Rintik
hujan malam itu tidak membuat Amora khawatir. Berjalan menyusuri ruangan,
sambil bernyanyi riang penuh senyuman. Satu langkah bagaikan seribu langkah.
Entah apa yang ada di benaknya saat itu. Tidak nampak rasa kekhawatirannya yang
seperti biasa ia munculkan. Enggan rasanya untuk pulang. Jumat yang indah,
bisiknya dalam hati.
"Tunggu
di bawah yah Ra, aku masih beres - beres dulu" Pak Raymon melayangkan
pesan melalui blackberry mesengernya.
"Lah
emang pulang bareng yah pak?" Tanya Amora heran.
"Iya
Amora sayang" ucap Pak Raymon lembut.
"Sayang
? Aduh Pak Raymon aneh banget deh"
"Dulu
teman mu juga sering kok pulang bareng sama aku, bener nih ga mau? Ujan loh di
luar" Pak Raymon mempertegas kalimatnya.
"Masa
sih? Ga enak ah, ngerepotin Pak Ray, lain kali aja"
"Sekalian
makan di luar yah, tunggu di parkiran jangan kemana - mana" balas Pak
Raymon cepat.
Setelah
dari perkenalan awal antara Pak Raymon dan Amora melalui blackberry messenger,
Amora tidak menyadari ketika itu pula "sosok kekasih" itu pun muncul.
Tanpa disadari selama satu bulan setengah mereka menjalin kasih, namun tidak
mudah dalam membinanya. Amora gadis yang super cuek. Sampai suatu ketika Pak
Raymon mengungkapkan perasaannya kepada Amora. Namun, bagi Amora semua itu
terlalu cepat. Belum tiba sang surya menampakkan diri, begitu cepat angin surga
berhembus.
"Ra,
aku kangen" sapa Pak Raymon via blackberry messenger.
Seketika
Amora sesegera mungkin menyiapkan amunisi agar bentengnya tidak runtuh. Apapun
yang terjadi itu akan menjadi bumerang yang dashyat. Amora seorang gadis yang
masih sangat labil mengenal cinta, merasakan sayang yang sebenarnya pun sulit.
Tapi, pesona Pak Raymon tidak bisa dielakkan olehnya. Satu ucapan tidak dapat
membuat Amora luluh. Percaya akan angan yang dulu dapat memusnahkan segalanya.
Butiran keringat yang membentuk partikel tajam, takkan mampu merubah semuanya.
Sinar itu sudah terperangkap dalam tubuhnya. Sekujur tubuh membeku, meledakkan
seisi dunia. Saat hati dan pikiran meradang menjadi bara api yang mereka
kirimkan kepada semesta.
"Ada
- ada gajah yah Pak Ray ini" jawab Amora cuek.
"Ra,
aku kangen kamu, kamu kangen gak sama aku?" Tanya Pak Ray lagi.
Ego
itu tak mau pergi dan takkan kalah. Siasat demi siasat tak mampu menipu
dirinya. Sebelum letih mencapai puncak, lebih baik turun dan mengalah. Bak
bunga dihinggapi sang lebah, hanya diam membisu. Akan jadi apakah ini?.
"Assalamualaikum"
Pak Raymon menyapa seisi ruangan.
"Waalaikum
salam Pak"Keiko dan Amora menjawab serentak.
"Ya
ampun yah, gak ada yang coba jawab salam saya, ckckc" Pak Raymon membalas
sambil menggelengkan kepala.
"Waalaikum
salam Pak Ray" Amora menjawab dengan nada nyengir dan sedikit kesal dengan
keisengan di pagi mendung itu.
"Nah
gitu dong" seperti biasa Pak Raymon membalas dengan senyuman genitnya
kepada Amora.
Senin
pagi kelabu. Sang surya enggan menampakkan dirinya, bersembunyi lalu tenggelam.
Pagi itu tidak seakrab dan sedekat biasanya. Dari jarak pandang yang jauh Amora
menatap papan putih dengan goresan tinta hitam di atasnya, tidak berkilau,
tampak pucat tak tersentuh. Ruang petak itu kosong, volume radio Pak Miko yang
sedikit menggema tapi tetap kosong. Pak Raymon dan Amora sibuk dengan handphone
dan headset masing - masing, begitu pula Keiko yang tampak antusias keluar
masuk forum diskusi online. Hanya jari - jari itu menari gemulai di atas
keyboard laptop. Tak ada yang peduli dengan kehampaan itu. Para guru besar pun
tak tampak batang hidungnya.
"ID
facebook mu apa, Ra?" Tanya Pak Raymon yang sudah sejak lama penasaran
dengan gadis lesung pipi ini.
"Mau
tau aja ih, cari aja pasti gak ketemu" Amora mencoba memberikan candaan
renyah di senin mendung.
"Yaaahhh,
capedeeh" jawab Pak Raymond malas.
"Emang
kenapa sih, kayanya pengen tau semuanya tentang aku, heran deh" balas
Amora dongkol.
"Emang
salah yah, Ra? Nanti kalau mau makan, biasa nitip yah" sambil memainkan
mata genitnya Pak Raymon terus - terusan menggoda Amora.
"Maybe
yes, maybe no" balas Amora singkat.
Pikirnya
akan buang waktu saja jika urusannya diperpanjang. Percuma menghabiskan waktu
dengan Pak Raymon, Amora benci Pak Raymon.
"Mau
bubur kacang ijo ga?" Kali ini obrolan mereka tidak melalui blackberry
messenger.
"Ga
ah, saya laper pak ga pengen yang manis - manis" jawab Amora lembut.
"Bilang
ke ob dong siapa tau mau beliin bubur sekalian makan malam mu, oke" sahut
Pak Raymon tanpa ragu.
"Ga
ah, situ yang perlu kok jadi saya korbannya. Pasti Mas Tanto ga mau, jam segini
jadwalnya beres - beres ruangan" jawab Amora ketus.
"Yah,
kok gitu sih. Mau yah bantuin aku, kalo cewe yang minta pasti dia mau"
jelas Pak Raymon.
"Ga
ah, Pak Ray aja sendiri. Lagian saya mau beli sendiri" balas Amora kesal.
"Ayolah,
sekali aja, plisss" bujuk Pak Raymon
Entah
apa yang sedang dipikirkan Amora saat itu. Amora menjadi tidak biasa, walau
seribu cara Amora menolak permintaan Pak Raymon, tapi kali ini Amora menjadi
"jinak". Dengan rasa sedikit malas Amora menghampiri office boy yang
lagi duduk santai dan segera melaksanakan perintah Pak Raymon yang sedari tadi
mengawasi obrolan antara Amora dan Mas Tanto. Namun, hari itu menjadi sebuah
malapetaka bagi Pak Raymon. Amora tidak berhenti memaki - maki dirinya, kenapa
ia harus mau menuruti semua perintah Pak Raymon. Amora kesal sejadi - jadinya,
bak bison siap menerkam mangsanya. Menggegam tas erat - erat, badan sigap
berjalan cepat, sapaan Pak Raymon pun tidak ia hiraukan. Hari itu Pak Raymon
sungguh menyebalkan.
Tidak
ada yang mengetahui perihal tadi malam yang mereka alami. Pagi itu seperti
biasa, datar dan tanpa maaf yang terucap dari mulut Pak Raymon, seakan tidak
terjadi apa - apa. Duduk, lalu pergi lagi mencari sarapan bagi keduanya. Sang
surya berdiri tepat diatas kepala, memancarkan terik yang menyilaukan mata. Jam
istirahat siang pun tiba. Waktu begitu cepat berlalu, malam menjemput. Tak
banyak yang Amora lakukan hari ini. Tidak jarang sekali atau dua kali jari -
jarinya menari diatas keyboard laptop yang berlayar datar itu. Beberapa kali
sapaan Pak Raymon di balas singkat dan rasa malas yang berkepanjangan, hari itu
Amora tak kunjung "sembuh".
"Pagi
semua" sapa Pak Raymon dengan centilnya
"Pagi"
sapa Keiko datar
Tanpa
berucap banyak, Amora hanya membalikkan lekukan badannya yang terlihat gemulai
kepada Pak Raymon. Pagi itu nampak jelas
sorot mata Pak Raymon yang tidak biasa kepada Amora. Merasa bersalah, tidak
tenang, dan kekhawatiran yang mendalam. Banyak rahasia di pagi itu. Kehampaan
yang menghampiri begitu dingin, pagi itu bukan milik mereka.
“Main yok, Ra” ajak Pak Miko kepada Amora.
“Malu og, moso tiap hari aku pinjem raketnya Pak Miko”,
canda Pak Miko menggelikan.
“Hehehe, oke deh paaakk. Siap” jawab Amora mantap.
Awan yang bersahabat. Hari yang tepat untuk tidak
melupakan hal yang sederhana terjadi diantara dua insan yang sedang “kasmaran”.
Di bawah rembulan yang malu menampakkan diri, ketenangan hati seindah
pandangan. Rasa yang mendalam menggumpal membentuk secercah harapan, setelah
butiran – butiran bak bola kristal itu turun dengan tertib. Tak ingin keduanya
melewati malam ini dengan amarah.
“Ra, tunggu dibawah yah” seperti biasa Pak Raymon
mengajaknya pulang.
“Okeyip” balas Amora. kata singkat sambil mengacungkan
kedua jempol manisnya kepada Pak Raymon.
Parkiran kantor...
“Mana sih Pak Raymon, katanya disuruh nunggu. Tapi yang
ditunggu ga dateng – dateng. Errr” Amora mulai menunjukan rasa kesalnya dengan
hilir mudik mengelilingi motor merah milik Pak Raymon.
Tiba – tiba handphonenya Amora berdering, tanda
blackberry messenger masuk.
Ra, tunggu yah. Di sini masih ada Pak Miko, ga enak saya.
Pak Raymon seakan menjawab kekesalan Amora. Malam itu
Amora tidak peduli jika ia harus menunggu lebih lama lagi. Yang ada dibenaknya,
hanya ingin makan dan pulang. Hatinya tidak menunjukan rasa gelisahnya, tak
pula merasa risau untuk cepat merebahkan badannya dikasur kesayangannya.
Jalanan malam itu masih sangat ramai, enggan rasanya menyendiri di kamar.
Langit terang benderang seakan siang cepat kembali. Aroma masakan yang semakin
menggoda, membuat Amora tak sabar ingin segera memenuhi meredam gejolak
lambungnya. Tepat di satu pilihan menu makanan yang dari kemarin didambakan,
akhirnya terpenuhi.
“Bu, pesan dua yah” ucap Amora sambil meletakan tas
tangannya di atas meja makan yang terlihat sempit.
Awal pembicaraan itu sungguh tidak terduga. Dengan
setenang mungkin Pak Raymon mnyembunyikan perasaan yang berkecamuk didadanya.
Tidak ada jarak diantara mereka. Begitu dekat. Tak ada canggung sedikit pun
menghampiri. Seperti adegan film.
“Ra, nanti tambah satu porsi lagi yah. Kalo makan dengan
porsi kecil ga akan cukup. Ya, ga ?” tanya Pak Raymon sambil memainkan alisnya
ke arah Amora memberi kode..
“Bener banget paaak, ini mah bukan porsi saya. Hehehe”
balas Amora senang.
“Ini untuk kamu, habiskan yah biar cepat gemuk” keusilan
Pak Raymon yang membuat Amora merasakan ada yang berbeda diantara mereka.
“Maaf, itu kat – kata terakhirnya agak lumrah didengar.
Hahaha” Amora menjadi merasakan canggung pada Pak Raymon.
“Udah sini saya suapin. Biasanya kan orang pacaran pasti
suap – suapan” rayu pak Raymon.
“Dih, apaan sih. Emang Pak Ray kalo pacaran negitu yah?”
tanya Amora mulai dengan nada penasaran.
“Yup” balas Pak Raymon salah tingkah.
Sambil mengambil sendok. Siap untuk memberikan satu
suapan kepada Amora. Namun, dengan cepat Amora menolaknya. Ia sadar kalau hal
itu tidak harus terjadi. Pak Raymon bukan milikku, ucap Amora dalam hati. Dua
detik ia terdiam dan membuang pandangan kearah lain. Aku tahu persis perasaan
istrinya Pak Raymon. Terlintas dibenaknya, kalau ia mempunyai seseorang yang
menunggunya di pulau sebrang. Aku tidak sepantanya seperti ini.
Malam itu mereka tampak dekat, sangat dekat. Seakan tidak
ada orang lain yang menunggu. Tak peduli hari sudah larut malam, tak peduli
hujan gerimis. Seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Sedemikian
mungkin mereka saling mnutupi perasaan yang selama ini terpendam. Seperti
memakan buah simalakama. Terbentur tembok, dan tidak bisa menembusnya. Hingga
lapisan yang paling tipis pun masih melekat. Bagaimana pun caranya Amora dan
Pak Raymon tidak akan disatukan.
“Ra, kamu sibuk sms siapa sih? Daritadi saya perhatikan
handphonenya dipegang. Saya ada di sini, Ra” tegur Pak Raymon yang diam – diam
juga menaruh hati kepada gadis pemilik bola mata indah itu.
“Masalah yah buat lo, hahaha. Ini loh Pak Ray, saya lagi
balas twitternya teman saya” jawab Amora cepat.
“oh, eh ajarin saya juga dong twitteran. Saya kan juga
pengen bisa, memang apa bedanya sama social network lainnya?” tanya Pak Raymon
dengan merapatkan kursinya ke arah Amora dan tanpa ragu menyodorkan handphonya.
Ada sedikit celah terbuka lagi, lebih hangat. Diam
membisu, aliran darah berhenti. Mata itu tajam mengarahnya. Memberikan kesan
kebahagiaan, gigi kaku. Dingin tak bergerak. Tatapan itu, suara itu, membuat
Amora tidak bisa dihilangkan dari ingatan Amora. Amora bingung.
“Gini loh mas, hehehe. Sudah di download?. Kalau sudah
bisa langsung diinstal” jelas Amora dengan lembut.
“Oh, saya punya yang ini. Kalau ini langsung dipakai?”Pak
Raymon mencoba minta kejelasan yang lebih kepada Amora.
“Betul, tapi terserah mau pakai ini atau yang seperti
saya pak. Kalau mau praktis sih pakai ini saja, tapi harus download dulu. Pak
pulang yuk, udah malem juga” ajak Amora tenang.
“Oke deh, nanti kita sambung lagi. Eh, Ra” belum sempat
Pak Raymon menyeselesaikan omongannya, Amora sudah bergegas menginggalkan
tempat makan. Seketika itu pula Pak Raymon harus lebih bersabar dengan tingkah
laku Amora yang mengecewakan.
“Ra, peluk aku” tiba – tiba kata – kata itu keluar dari
mulut Pak Raymon tanpa basa basi. Tanpa malu. Pak Raymon tidak ingin hilang
kesempatan untuk kedua kalinya untuk lebih dekat bersama Amora.
“Hah? tadi keracunan makanan apa sih? Ko jadi kaya gini.
Makin malam makin gila aja nih si Pak Ray. Ogah ah ngapain jga, bukan muhrim.
Emang Pak Ray waktu pacaran kaya gitu yah?” begitulah nada bicara Amora
terkesan galak tapi manis.
“Hahaha, iyah” jawab Pak Raymon menutupi semua tentang
dirinya.
“Emang udah berapa taun menikah?” ankanya lucu banget
paaak” tanya Amora lebih dalam.
“Ehmm. Emang kenapa sih kayanya dari kemarin nanyain itu
terus. Pengen tau banget deh kayanya” balas Pak Raymon yang semakin tidak ingin
status keluarganya diketahui oleh Amora. Pak Raymon menyembunyikan sesuatu.
“Yaelah, emang salah yah kalo nanya itu. Kan lumrah kalii
paakk” bantah Amora kesal.
Obrolan itu semakin intim. Gang itu masih penuh sesak dan
sudah tidak tertata dengan rapi alias sudah rawan. Indra pendengar Amora pun
masih tajam, seakan tidak ingin melewati satu kata yang diucapkan Pak Raymon.
Kali ini Amora terkejut.
“Hah? baru empat tahun? Dan beda 5 tahun? Ckckck” sambil
menggelengkan kepalanya, Amora terdiam.
Rasa keingintahuan Amora semakin dalam. Tidak hanya
dengan hal perbedaan umur saja yang menggetarkan gendang telinganya. Namun,
hatinya pun ikut bergetar.
Ra, tadi saya ingin ngobrol banyak.
Ini menyangkut perasaan saya.
Udah mandi belum? Ga kerasa udah jam segini.
Met tidur yah Ra J
Pesan singkat itu terus menghantui pikirannya, sampai jam
dinding berdentang keras menandakan hari telah berganti. Antara ingin memberi
respon atau tidak. Tapi tetap malam itu menyenangkan baginya. Pak Raymon
sungguh misterius.
Aduh Ra ini rapatnya ga beres – beres. Suntuk banget.
Blackberry messenger itu menjadi harta karun yang
menakjubkan. Antara sadar atau tidak, Amora merasa ini bukanlah sebuah mimpi.
Emang dari jam berapa rapatnya? Ngapain aja sih? Kok bisa
bebean sih? Rapat yang bener dong ah pak, hahah
Orang arsiteknya agak menyebalkan. Dasar yah kamu. Aku
jadi kangen kamu.
Kangen nyubitin aku lagi gitu maksudnya.
Hahahah. Bosen banget nih, coba ada kamu di sini kan bisa
jailin kamu.
Paaaakk Raaayyy!! Errr
Hehehe, becanda Ra. Ra, tentang bbm aku semalem gimana?
Kok ga dijawab?
Oh, maaf semalam udah tidur. Udah sana rapat aja dulu,
nanti ketauan bos.
Ga tau pak, saya ga bisa jawab apa – apa. J
Oh, still love Raka. Oke.
Iyah dong, emang kenapa sih? Pak, bapak lagi puber kedua
yah?
Bukan, tapi ke seratus.
Ckckck.
Tetap tidak ada kepastian yang diharapkan Pak Raymon.
Hasrat ingin memiliki Amora masih terlihat jelas. Amunisi terus terisi padat, jangan
menyerah. Di satu sisi ada perasaan lain yang berkecamuk di hati Pak Rusdi
dengan melihat kedekatan Amora dan Pak Raymon. Amora tidak tahu jauh dilubuk
hati Pak Rusdi terbesit kecemburuan yang harusnya bukan miliknya. Amora sudah
terperangkap, ada maksud terselubung dibalik kebaikan mereka. Atur ulang
siasat, agar mereka tidak memberi respon lebih kepada Amora. Susunan kata yang
acak sulit diragnkai, begitu pula hati mereka.
“Oh, sekarang sama Pak Ray”tampak dari kejauhan Pak Rusdi
mencoba menanyakan perihal kedekatan Amora dengan Pak Raymon.
“Opo toh pak, tiba – tiba ngomong begitu” elak Amora
dengan nada kesal.
“alaah – alaahh pake ngeles lagi kamu nduk” balas Pak
Rusdi semakin ingin menampakkan amarahnya.
“Yoo, abisnya Pak Rusdi gitu sih ngomongnya. Jelas –
jelas saya ndak ada apa – apa sama beliau” tegas Amora.
“Yoweislah” jawab Pak Rusdi singkat dan menghindari
pertengkaran yang tidak etis untuk diteruskan. Dengan wajah datar, Pak Rusdi
meninggalkan Amora yang sedari tadi sudah menunjukan sikap ketidakpeduliannya
kepada Pak Rusdi sejak kehadiran Pak Raymon disisinya. Langit gelap, hujan pun
berlarian ke bumi, mengharapkan suatu yang tidak pasti. Tidak terbalas. Amora
mulai tidak konsentrasi dengan pekerjaannya, ada yang merusak perasaannya. Amora
mulai berpikir keras, haruskah ia pergi?.
Jumat pagi yang cerah..
Tidak seperti biasanya Pak Rusdi diam seribu bahasa ketika melihat Amora. Pagi itu tidak diawali dengan pagi senyuman. Datar. Hanya raut wajah yang penuh keheranan yang ditampakkan oleh Amora.
"Mbak Ami, Pak Rusdi marah yah sama aku. Kok barusan disapa malah pura - pura ga liat. Huh, bete" celoteh Amora pagi itu.
"Ah, ndak tuh. Perasaan dek Amora aja, hehe" jawab Ami salah seorang office boy di kantor.
"Apa ada yang salah yah sama aku? atauuuu.." belum sempat Amora meneruskan pertanyaannya, Ami langsung menyambar bak kilat.
"Eh, dengar yah, Pak Rusdi itu baaeekk buanget, ndak pernah marah. Coba tanya deh ma Mbah Rakso, mana pernah Pak Rusdi marah" balas Ami sambil menggoda Rakso yang juga merupakan salah satu penghuni pantry di sana.
"Ya gitu, Mbah?" tanya Amora masih terlihat tidak yakin atas penjelasan Ami.
"Apa? marah, ga pernaah nduukk. Udah gausah dipikirin, gitu aja kok repot" Rakso mencoba menjawab dengan santai dengan meniru cara Pak Gusdur berbicara.
“Yoweislah, semoga Pak Rusdi ndak marah sama aku, hehe”Amora coba menenangkan hatinya yang sedang gundah gulana.
“Naaaaahh, gitu dong. Daripada cemberut trus kaya burung perkutut” balas Ami mencairkan suasana.
Kegalauan itu berakhir setelah semuanya terjawabkan. Pak Rusdi menyimpan perasaan yang tak dirasakan oleh Amora. Pak Rusdi mulai menyerah menaklukan hati seorang putri cantik. Harusnya tidak begini. Batinnya berkata, mengalah untuk menang. Sejak kehadiran Pak Raymon, dan Ryan disisi Amora serta seseorang yang terpisahkan oleh jarak dan waktu. Pak Rusdi berhati lembut bagaikan salju, penjaga rahasia yang handal dan dermawan. Tidak ada niat untuk menyakiti atau disakiti. Meninggalkan mereka adalah salah satu cara yang tepat, tanpa memberikan alasan pasti. Tempat jauh, jauh dari kenangan manis. Kubur dalam angan – angan yang hampir terakit dengan baik. Menyembunyikan segala bentuk pandangan yang berdosa, ratapan kasih sayang yang penuh arti. Mencoba mengerti satu demi satu silang kehidupan, keinginan, kegalauan hati.
Blackberry messenger itu terulang lagi dan lagi. Untuk kesekian kalinya berkesan tegang, dalam dan hidup. Maksud ucapan terukir indah dalam bentuk kata – kata. Harus dengan cara apa Amora menaklukan kerasnya tembok Berlin, ketidakpedulian Amora saat itu masih dapat ditembus oleh butiran indah gemerlap berlian, Amora terperangkap lebih dalam. Sekarang ia tampak keci lebih mirip telur ayam yang akan menetas. Ada perbedaan sikap yang ditunjukan oleh Pak Raymon. Entah dari sisi mana perbedaan itu muncul, tidak seperti biasanya keangkuhan itu berdiri tegak.